Buku Tamu

Jumat, 11 November 2011

Misteri di balik Tercorengnya Nama Hacker


Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menyebutkan sebuah benda dengan penyebutan mereknya. Misalnya, orang-orang sering menyebut disposable diaper atau popok sekali pakai dengan sebutan Pampers, salah satu merek dagang diaposable diaper. Sebutan sabun cuci baju dengan Rinso atau nama-nama merek lain yang melejit karena kepiawaian pihak marketing sebuah produk.
Di dunia internet pun, ternyata hal yang sama terjadi. Apa sebutan cocok bagi Kevin Mitnick ketika dia menjadi buron FBI gara-gara membobol sistem keamanan lembaga pertahanan udara Amerika? Apa pula sebutan Kevin Polsen ketika membobol saluran telepon agar menang dalam kontes yang diadakan oleh radio Los Angeles? Ya. Mereka dikenal dengan nama hacker.
Meskipun banyak buku yang memberi arahan tentang definisi hacker, sampai detik ini, hampir semua orang tidak mempedulikan hal itu. Buktinya, ketika menyebut nama Kevin Mitnick, sang jenius bidang IT yang membuat pusing FBI, orang akan langsung mengingatnya sebagai hacker.
Padahal, mungkin mereka tahu bahwa hacker adalah orang yang hobinya mempelajari isi komputer dengan tujuan memahami proses kerja sebuah sistem.
Hacker Lebih Populer Dibanding Cracker
Perbedaan hacker dan cracker memang hanya terletak pada tujuannya. Keduanya memiliki hobi yang sama dan keahlian yang sama. Namun, seorang carcker pasti selamanya akan bertujuan merusak sistem, kecuali yang benar-benar tobat.
Populernya nama hacker mungkin disebabkan oleh adanya brand name cracker dalam produk makanan. Crispy cracker, misalnya. Dengan demikian, beberapa orang merasa tidak nyaman menyebut cracker untuk istilah hacker jahat. Apa yang terlintas dalam pikiran Anda ketika menyebut nama cracker?
Bahkan, dalam film-film Hollywood pun penyebutan cracker tetap asing. Padahal, film-film Hollywood umumnya dikerjakan melalui riset terlebih dahulu. Tentu saja, orang-orang yang terlibat dalam perfilman, seperti pembuat skenario, mengetahui istilah-istilah asing untuk tema film yang sedang digarapnya.
Ya. Mereka pasti tahu istilah cracker ketika menggarap War Games, yang terinspirasi oleh kisah Kevin Mitnick. Namun, istilah cracker tetap ditinggalkan. Mengapa? Karena hacker telah menjadi sebuah “brand name” untuk orang yang memiliki keahlian menerobos sistem jaringan dengan tujuan merusak sistem. Siapa yang membentuk brand name keliru ini?
Kesalahan Hollywood?
Ini mungkin efek “marketing” yang keliru. Kekeliruan ini lama-lama menjadi kebenaran. Mengikuti hukum psikologi populer, yaitu kesalahan yang diulang terus-menerus akan menjadi kebenaran bagi pelakunya. Mengubah mindset yang sudah terpatri di otak bukanlah hal gampang.
Jadi, kini lengkaplah penderitaan para hacker. Meskipun tujuan mereka mulia, masyarakat umumnya akan menganggap mereka jahat. Meskipun beberapa di antara mereka telah menjadi partner FBI untuk menangkap para kriminal IT, masyarakat tetap menganggap mereka kriminal. Padahal, jasa para hacker sangatlah besar.
Sebagai contoh, FBI tidak sanggup menangkap Kevin Mitnick, sang hacker legendaris yang lincah dan mampu mengelabui FBI, Secret Service, dan lain-lain. Bahkan, FBI sempat dibuat putus asa oleh sepak terjang Mitnic. Akhirnya, mereka menyerah dan meminta bantuan seorang hacker Jepang yang lama tinggal di Amerika untuk menangkap Mitnick. Shimomura, yang namanya tidak sepopuler Mitnick.
Namun, sejarah seolah melupakan Shimomura hanya karena dia dianggap “bukan” hacker. Nama hacker telah tercoreng. Apapun yang mereka lakukan. Tidak ada hacker baik. Siapa dalang dari kesalahan turun-temurun ini? Mungkin sebaiknya Anda tanyakan ke pihak Hollywood.

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Colgate Coupons